Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
(07/12/2025) Episode kali ini saya akan bercerita tentang pemanfaatan ruang gudang di rumah sebagai home workstation.
![]() |
| Sebuah Ilustrasi "Home Workstation" |
Mengapa home workstation? Jawabannya adalah meskipun saya sudah di rumah, terkadang sebuah "job" membutuhkan adanya komputasi dalam penyelesaian job tersebut. Misalnya, setiap akhir pekan membuat desain poster tentang Kajian Rutin Ahad Pagi di Masjid Poesporedjo Tegalasem. Sesuai arahan dan instruksi dari Ketua Dewan Syuro Masjid, bahwa setiap hari minggu atau ahad, selepas sholat subuh berjamaah, di masjid akan dilaksanakan kajian rutin. Nah, kajian ini biasanya mengundang narasumber ustadz yang berbeda-beda setiap pekannya. Guna mengundang dan agar supaya jamaah warga sekitar masjid tertarik untuk datang maka dibuatlah poster digital yang nantinya akan dishare ke grup WhatsApp masjid yang beranggotakan ketakmiran masjid dan juga para jamaah. Digitalisasi "undangan" ini tentu menghemat biaya yakni tidak diperlukannya lagi untuk mencetak undangan fisik kertas yang kemudian dibagikan ke rumah-rumah warga sekitaran masjid, cukup di invite masuk grup lalu share poster digitalnya.
Contoh "job" lain misalnya ada permintaan dari atasan di tempat kerja, yang laporannya disampaikan di hari senin pekan depan, maka saat akhir pekan di rumah pekerjaan dari atasan bisa tetap saya kerjakan dengan cepat. Atau contoh lain ketika sedang ada pekerjaan besar dari kantor, yang sudah dikerjakan saat jam kerja di kantor tetapi sampai jam pulang kerja pekerjaan masih belum selesai, maka bisa lanjut saya kerjakan nanti di home workstation.
Alasan utama lain yang memotivasi saya untuk mengubah sebuah ruang gudang menjadi ruang home workstation adalah, sebuah intimasi dalam bekerja saat di rumah. Intimasi bagaimana yang dimaksud? Begini, okai betul ini tahun 2025, bekerja menggunakan smartphone? tentu bisa, bekerja menggunakan laptop? bisa banget. Lantas mengapa home workstation? Jawabannya adalah "mode bekerja".
Maksudnya adalah, oke betul kita bisa kerja hanya dengan menggunakan smartphone, tapi pada perangkat smartphone terlalu banyak potensi distraksi. Ambil contoh kita sedang membuat sebuah jurnal menggunakan google docs atau notes di smartphone, sangat bisa kan, tetapi peluang untuk jempol tangan kita swap-app atau membuka pesan masuk dari teman sangat besar. Otak kita tidak merasa urgensi untuk fokus dalam bekerja, potensi untuk beralih ke tiktok atau instagram sangat besar.
Hal yang sama namun berbeda juga terjadi pada saat kita bekerja di rumah menggunakan laptop. Tidak akan menjadi masalah ketika kita bekerja di kantor menggunakan laptop, kita akan tetap fokus dalam menyelesaikan pekerjaan. Hanya saja, konteks yang saya ambil adalah ketika kita bekerja di rumah. Apabila di kantor, tentu kita akan pada "mode kerja", duduk tegap di kursi, laptop di atas meja, postur ini sangat mendukung dan memberikan sinyal ke otak bahwa kita sedang fokus bekerja dan siap menyelesaikan berbagai tugas. Sedangkan jika kita di rumah bekerja menggunakan laptop, "mode kerja" kita akan lebih fleksibel. Kita tidak harus untuk bekerja duduk menghadap meja, bisa di atas Kasur, sambil tengkurap di karpet, dsb. Tentu ini adalah sebuah masalah, kita sedang bekerja namun sinyal yang diterima otak adalah kita sedang "bersantai" meskipun sambil membuka laptop.
Dari analisa kecil saya tersebut, maka saya kira diperlukan sebuah home workstation sebagai "meja kerja" di rumah, sehingga kita bisa fokus dalam bekerja dan lebih cepat untuk menyelesaikan pekerjaan. Mungkin itu dulu yang bisa saya ceritakan di episode ini. See u next episode!
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
Dukung kami untuk terus membuat konten dengan memberikan donasi dengan klik tombol di bawah.


Komentar
Posting Komentar